Minggu, 13 Februari 2011

Pusi Kocak dan Berantai


Dalam suatu tempat, berkumpullah tiga orang dengan hobi yang sama, yaitu membuat dan membaca puisi, tetapi dalam suasana hati yang sama sekali berbeda.

Yang pertama : Seseorang yang bangga dengan perjuangan pahlawan pembela Ibu Pertiwi,
Yang kedua : Seseorang yang sedang mengagumi kekasih hatinya,
Yang ketiga : Seseorang yang sedang mengagumi telur-telur ayamnya yang banyak.

Kemudian terjadilah perdebatan : (perdebatan sambil bertengkar, berebut ingin membaca puisi pertama kali)

Pejuang : Perang berkecamuk, membakar semangatku untuk berjuang. Kulihat musuh mengerang kesakitan, aku teringat …
Pecinta : Ciumanmu yang mesra … suara hatiku yang penuh cinta kepadamu kekasihku … cintaku yang dalam … yang indah … yang besar seperti …
Pedagang : Telur ayamku, telur ayamku… kujajakan kau sekeliling kampung, tanpa seijin Pak-RT, sehingga aku dimarahinya… dihardik… dicaci oleh seluruh masyarakat yang jumlahnya beribu-ribu ….

Pejuang : Prajurit yang mati dimedan laga… terluka, tersakiti, tergolek lemah menangis, dan meratapi…
Pecinta : Hidung-mu… hidung-mu yang mancung, matamu yang bulat seperti …
Pedagang : Telur ayamku, telur ayamku… malang nian nasibmu … kujual, kugoreng, kumakan, namun dirimu tetap bagaikan …

Pejuang : Anjing-anjing Belanda … yang haus darah, haus kekuasaan, menyerang, menghukum dan mencabik-cabik…
Pecinta : Bulu romaku… merinding bulu romaku, saat kau sentuh diriku dengan cinta namun ketika itu aku merasa kehilangan ….
Pedagang : Telur ayamku, oh… telur ayamku… maafkan aku jika selama ini aku terus ….

Pejuang : Membombardir … terus membombardir seluruh negeriku menghancurkan seluruh rakyatku hingga mayat-mayat berserakan bagaikan …
Pecinta : Bau wangi parfum-mu… mengingatkanku akan cerita cinta kita yang indah, seindah …
Pedagang : Pantat ayamku…, pantat ayamku… begitu berjasanya dirimu, tanpamu telur-telur ayamku tidak akan bisa ….

Pejuang : Dibanting…. Ditembak… Dibunuh … bahkan disiksa habis-habisan … , semua ini menyulut hasrat dan tekadku untuk membalasnya dengan…
Pecinta : Kucium… kuraba… kupeluk … dan kubelai dirimu dengan ….
Pedagang : Bulu ayamku, oh… bulu ayamku indahya dirimu, jumlahmu yang banyak bahkan beribu-ribu seperti….

Pejuang : Serdadu-serdadu perang … yang siap mati membela negara, membela ibu pertiwi yang sedang…
Pecinta : Kasmaran … yah… kasmaran … mungkin ini yang aku rasakan, rasa cintaku padamu yang besar, sebesar….
Pedagang : Kandang ayamku, sungguh kokoh kau berdiri melindungi ayam-ayamku dari….

Pejuang : Serangan-serangan musuh … tak membuatku gentar, tak membuatku takut untuk terus …
Pecinta : Merayumu… memadu kasih antara kita, mengarungi cinta kita bersama dan menikmati….
Pedagang : Tai ayam-ku, kubersihkan kau setiap hari tanpa ngeri, jijik atau malu pada tetangga yang mencemoohku dengan…

Pejuang : Meriam… panser, tank, amunisi dan lainnya yang terus menderu dan menyerbu… sungguh sebuah kutukan …
Pecinta : Dalam cinta kita... Gelora api cintaku yang membara padamu, memaksaku untuk ….
Pedagang : Menjual-mu … yah … menjualmu ke warung-warung kopi terdekat, mungkin dibikin jamu atau telur asin, meski sebenarnya aku tak tega…
Pejuang : Melihatmu terkapar… bersimbah darah, meregang nyawa, bahkan kau tak tahan melihat, menyentuh …
Pecinta : Bodimu yang sexi .. senyum yang menawan serta langkahmu yang tegap bagaikan ….
Pedagang : Cẻkẻr Ayamku … walau jarimu jempol semua, tapi tidak mengurangi sedikitpun semangatmu untuk …

Pejuang : Mengebom musuh…Saat bom meledak di sarang musuh, musuh berlarian……
Pecinta : Dengan manja ... Mengajak hati ini tuk bercinta dalam ………
Pedagang : Kandang ayamku…yang belum kubersihkan. Akan kurawat dan ku…..

Pejuang : Ledakkan….. Dengan roket – roket musuh, yang terus memburu. Kuterjang musuh dalam……
Pecinta : Lautan cinta ... yang terbentang luas menghiasi ………
Pedagang : Telur ayamku …dalam rupamu yang bulat, lonjong dan bentukmu yang …..

Pejuang : Hancur berkeping – keping tanpa rasa iba, musuh menyiksa, memburu, dan ….
Pecinta : Inikah cinta yang selama ini kudambakan ... Kubayangkan wajahmu setiap hari dalam ………
Pedagang : Kandang ayamku … yang berderet - deret. Terus kuperbayak agar ayamku semakin bergairah dalam ber....

Pejuang : Perang dalam medan laga. Prajurit berperang dalam kecamuk ……
Pecinta : Asmara yang menggelora.... Untaian kata – katamu yang lembut niscaya membuat hatiku………
Pedagang : Bertelur – dan bertelur lagi … Namun saat kutemukan seekor ular melilit di kandang ayamku kuteriakkan…..

Pejuang : Merdeka - merdeka… Merdeka atau mati. Dan semangatku berkobar saat kulihat prajurit – prajurit meneriakkan …….
Pecinta : sayang…sayang……aku kangen…. Hanya kata-kata itu yang ada dalam pikiranku untuk memelikimu dan ………
Pedagang : Memukulmu… dan terus memukulmu tanpa ampun…. Ketika ular itu pergi kurasakan hatiku ….

Pejuang : Meledak-ledak …. Gemuruh Bom musuh terus menghacurkan rumah-rumah rakyatku yang tak berdosa. Rudal-rudal musuhpun melesat …
Pecinta : Membangun istana cinta … bersamamu aku merasa tenang dan damai, oh…
Pedagang : Telur ayamku … kurawat dirimu sebelum kujual agar bisa kutukar dengan …

Pejuang : Granat … bom, dan rudal, yang terus menyerang. Para prajuritpun gugur sebagai pahlawan di ……
Pecinta : Samudera cinta... yang bertabur bunga meyemaikan rasa yang berpadu asmara selaksa ……
Pedagang : Ceker Ayamku …sudah-sudah …. Kita hentikan semua sampai disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar